Selasa, 19 Agustus 2008

Saudariku, Jangan Kau Gunakan Lisanmu untuk Melaknat

Penulis: Ummu Salamah As-Suluni
Termasuk bagian dari kenikmatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah lisan. Dengan lisan, kita dapat mengungkapkan pikiran dan perasan kita. Terkadang kita menganggap sepele atau bahkan melupakan perkara yang berhubungan dengan lisan, sehingga kita sering mendengar seseorang yang mengucapkan sesuatu yang tanpa disadari bisa menimbulkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lisan terkadang dapat mengantarkan pemiliknya ke tingkat tertinggi apabila lisan itu digunakan untuk kebaikan atau diarahkan kepada apa yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun lisan juga dapat menjerumuskan pemiliknya ke tingkat yang paling rendah, yaitu apabila lisan digunakan untuk perkara yang tidak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seorang mukmin senantiasa diperintahkan untuk menjaga lisannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. Al-Mukminun: 1-3)
Menjaga lisan termasuk salah satu kesempurnaan Islam seseorang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik (kualitas) keislaman kaum mukminin adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya. Sebaik-baik (kualitas) keimanan kaum mukminin adalah mereka yang paling baik akhlaqnya…..” (HR. Ath-Thabrani)
Sebagai seorang mukmin, penting bagi kita untuk mengetahui apa saja yang termasuk kejahatan lisan. Diantara kejahatan-kejahatan lisan tersebut adalah melaknat.
Apa itu melaknat? Melaknat memiliki dua makna, yaitu makna pertama adalah mencela dan makna kedua adalah mengusir serta menjauhkan dari rahmat Allah. Melaknat bukanlah perangai orang beriman, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan bukan orang yang suka melaknat serta bukan orang yang suka bicara jorok dan kotor.” (HR. Al-Bukhari)
Banyak bahaya yang ditimbulkan karena melaknat. Di antara bahaya tersebut adalah tukang laknat tidak dimasukkan dalam golongan para syuhada dan tidak termasuk orang-orang yang memberi syafa’at disisi Allah untuk memintakan ampun bagi seseorang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafa’at dan tidak pula syuhada pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Melaknat juga bukan sifat para shidiqqun, disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sepatutnya bagi seorang shidiqq menjadi pelaknat.” (HR. Muslim)
Lalu bagaimana jika seseorang melaknat orang lain yang tidak berhak untuk dilaknat? Jawabannya, laknat itu akan kembali pada orang yang melaknat. Dalam suatu hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu, niscaya laknatnya akan naik ke langit, maka tertutuplah pintu-pintu langit hingga ia (laknat -ed) tak dapat masuk, maka kembalilah ia terhujam ke bumi, akan tetapi pintu-pintu bumi pun tertutup untuknya, maka ia berputar-putar ke kanan dan kiri, dan jika tak menemui jalan keluar (menuju sasarannya), maka ia akan tertuju pada orang yang dilaknat jika memang ia pantas untuk dilaknat, akan tetapi jika tidak pantas, maka ia akan kembali kepada orang yang mengucapkan laknat tadi.” (HR. Abu Daud)
Kadang kita mendengar orang berkata, “dasar batu sial!” atau “sial kamu!”, kata-kata ini terdengar sangat sepele, namun ketahuilah Saudariku, bahwa kita dilarang untuk mengucapkan atau melaknat sesuatu tanpa adanya keterangan dari agama bahwa sesuatu tersebut mendatangkan kesialan. Selain itu, kita juga dilarang melaknat angin, binatang, ayam jago, waktu, serta manusia tertentu, terutama seorang mukmin karena hal tersebut termasuk dosa besar. Tsabit bin Adh-Dhahhak rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaknat seorang mukmin maka seakan-akan dia membunuhnya.” (HR. Al-Bukhari)
Lalu apakah ada laknat yang diperbolehkan? Jawabannya ada, yaitu melaknat pelaku kemaksiatan dari kalangan kaum muslimin tanpa menunjuk personnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya. Selain itu boleh juga melaknat dengan menunjuk orang terrtentu yang sudah mati untuk menjelaskan keadaannya pada manusia dan untuk kemashlahatan syari’ah. Adapun jika tidak ada maslahat syari’ah maka tidak diperbolehkan karena, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci maki orang-orang yang telah mati, karena sesungguhnya mereka telah mendapatkan balasan dari apa yang telah mereka perbuat dahulu.” (HR. Al-Bukhari)
Seorang mukmin hendaknya tidak berkata kecuali yang baik. Perkataannya adalah suatu kejujuran, di samping sebagai perbaikan di antara manusia, amar ma’ruf nahi munkar, doa, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini? “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada diantara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)
Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesalahan-kesalahan lisan kita serta janganlah kita merasa aman terhadap tipu daya lisan, agar kita tidak binasa dalam neraka jahim dan kerugian.

Waspadai Virus Selingkuh

Seorang ibu mengalami depresi berat sampai harus masuk rumahsakit. Bahkan sebelumnya ia hampir mengakhiri hidupnya. Apa gerangan yang terjadi? Suaminya selingkuh dengan teman sekantornya. Tidak ada dalam benaknya, seorang suami yang taat beribadah, perhatian, bahkan pengurus DKM berselingkuh dengan wanita yang jauh dari agama. Ia benar-benar terguncang. Harmonisasi keluarga yang selama ini mereka bangun hancur begitu saja karena hadirnya orang ketiga.
Walau menyengsarakan, namun tren selingkuh di masyarakat mengalami "peningkatan" signifikan. Ustzh. Mimin Aminah, konsultan pernikahan dari Cahaya Islam Bandung, mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir ia menerima 43 orang yang berkonsultasi. Masalah yang dikonsultasikan bervariasi, 3 orang konsultasi masalah non pernikahan. Sisanya berkaitan dengan maslaah pernikahan. Dari 40 orang, hanya dua orang saja yang bukan selingkuh. Jadi, 38 orang atau hampir 90 persen pasien yang datang mengeluhkan soal perselingkuhan. Satu angka yang amat mengkhawatirkan. Sehingga masuk akal bila seorang ahli menyatakan bahwa dua dari tiga laki-laki selingkuh.
Ia pun menemukan dua hal "unik". Pertama, pelaku selingkuh ternyata bukan hanya laki-laki, tapi juga wanita. Ini menarik. Biasanya wanita memiliki komitmen, kesetiaan dan rasa iba lebih kuat, serta memiliki pertimbangan emosi yang lebih kuat. Kedua, pelaku selingkuh bukan hanya orang-orang yang tidak mengerti agama. Orang yang mengerti agama pun bisa berselingkuh.

Apa Itu Selingkuh?Selingkuh adalah tindakan yang disembunyikan, serta tidak diungkapkan sebagaimana mestinya, sehingga menimbulkan perasaan tidak baik terhadap orang yang tidak mendapatkan hak dari apa yang disembunyikannya itu. Dalam perkembangannya, selingkuh dikonotasikan dengan hubungan selain hubungan resmi. Misalnya, hubungan suami dengan selain istrinya atau seorang istri dengan selain suaminya. Hubungan tersebut dibangun seperti hubungan suami dan istri.
Selingkuh, sejatinya adalah tahap awal pengembangan dusta dalam rumahtangga. Sehingga melahirkan rasa saling tidak percaya, saling curiga dan pengkhianatan akan janji setia. Akibat selingkuh, tidak ada lagi kehangatan dan canda tawa dalam keluarga.
Karena akibat yang ditimbulkannya sangat berbahaya, maka Islam memandang selingkuh sebagai zina. Allah SWT sangat membenci zina. Jangankan melakukannya, mendekatinya saja tidak boleh (QS Al-Israa' <17>: 32). Islam pun tidak mentoleransi perbuatan zina sedikit pun. Hal ini terlihat dari beratnya sanksi yang diberikan kepada pelakunya (QS An-Nuur <24>: 2).

Mengapa Terjadi Selingkuh?
Selingkuh terjadi karena adanya dorongan kuat untuk melakukan penyimpangan. Kadang berupa keinginan bertemu seseorang yang dulu pernah dicintai dan sekarang sudah berkeluarga. Kadang melihat "kelebihan" orang lain dibanding milik sendiri, dsb. Andai dirunut, setidaknya ada empat penyebab utama terjadinya selingkuh.
Pertama, kurang harmonisnya hubungan suami dan istri. Kondisi ini disebabkan kurang intensnya berkomunikasi yang terjalin. Bisa pula masing-masing kurang mendapat porsi mengekspresikan emosinya. Sebenarnya kalau pun ada faktor-faktor lain yang bermasalah, seperti faktor ekonomi, apabila komunikasinya bagus, keluarga akan tetap harmonis.
Kedua, adanya ketidakpuasan suami atau istri yang tak terungkap. Harapan, tuntutan, keinginan yang tidak terkomunikasikan bisa membuat seseorang mencari pemenuhan dari orang lain. Patut dicatat, selingkuh itu tidak selalu dengan orang yang fisik dan hartanya lebih baik dari pasangan sahnya. Ada kasus seorang majikan selingkuh dengan sopir atau pembantunya. Alasannya, mereka merasa lebih dihargai oleh selingkuhannya.
Ketiga, kurangnya perhatian dari pasangan. Apa yang diharapkan pasangannya tidak direspons dengan baik.
Keempat, dilanggarnya etika pergaulan dengan lawan jenis. Sebab, sepanjang pandangan dan perkataan tidak dijaga, sepanjang pergaulan tanpa hijab, sepanjang itulah peluang selingkuh terbuka lebar.

Arti Penting Komitmen
Kesuksesan rumahtangga dibangun dengan landasan kecintaan dan kesetiaan. Namun kenyataannya banyak orang yang diam-diam mengkhianati cinta pasangannya dengan selingkuh. Rumahtangga yang telah dibangun selama bertahun-tahun, akhirnya kandas karena pasangan berselingkuh. Bagaimana mengeliminasinya?

· Bangun Komitmen Spiritual
Sebuah perbuatan akan terjadi kalau ada peluang dan kemampuan. Keduanya hanya bisa dihalangi oleh kuatnya komitmen agama. Komitmen inilah yang membuat Nabi Yusuf mampu menghindari perselingkuhan dengan Zulaikha. Nabi Yusuf benar-benar mendapatkan kesempatan langka, namun ia tidak tergoda (QS Yusuf <12>: 23). Komitmen spiritual akan membuat seseorang tunduk pada kebenaran dan mampu berakhlak mulia. Pandangan, ucapan serta pergaulannya akan senantiasa dijaga.

· Bangun Komitmen Berkeluarga
Pernikahan akan terasa dinamis, andai suami istri memiliki komitmen untuk memenuhi hak dan kewajibannya sebaik mungkin. Suami berkomitmen untuk menjadi kepala rumahtangga terbaik. Begitu pun istri, berkomitmen menjadi ratu di rumahtangga. Ketika fungsi-fungsi ini tidak berjalan, maka akan lahir ketimpangan dan penyelewengan.

· Bangun Komunikasi yang Sehat
Suami istri perlu membiasakan suasana komunikasi yang enak dan musyawarah. Suasana dialogis perlu dikembangkan untuk menjaga keharmonisan, melahirkan keterbukaan, mampu mendeteksi adanya perubahan sikap, serta mengetahui keadaan pasangan.

· Selesaikan Masalah Sejak Dini
Jangan sepelekan masalah yang timbul, termasuk masalah yang kita anggap kecil. Sebab, perselingkuhan sering berawal dari masalah-masalah sepele. Maka, berhati-hatilah ketika pasangan marah-marah melihat salah satu kebiasaan kita. Atau ia mengatakan bosan. Segera cari solusi terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak.

· Jadilah Pasangan Tepercaya dan Dibutuhkan
Setiap pasangan harus mampu memberikan service memuaskan bagi pasangannya. Sehingga ia tidak mencari kepuasan di luar rumah. Suami atau istri harus menjadi penenteram bagi pasangannya ketika didera masalah. Ia hadir, membantu dan menenteramkan, bukan malah menambah masalah.

· Bersikap Bijak dan Tepat
Sikapi dengan bijak dan tepat bila mengetahui adanya gejala-gejala peselingkuhan. Caranya: <1> Kembalikan semua masalah kepada aturan Allah dan Rasul-Nya, <2> Tiap pasangan melakukan koreksi diri dan saling mengingatkan untuk menemukan dan menilai kesalahan yang telah terjadi

Kuatnya Ketulusan Kasih Ibu

Kuatnya Ketulusan Kasih Ibu

Sesekali bibir bocah itu mengulum senyum. Kedua matanya memerhatikan sekelilingnya. Dengan lembut dan kasih sayangnya, ibu si anak mengelus rambut hitamnya yang terlihat jarang tumbuh. ''Ibu mau shalat dulu ya sayang. Kamu tidur-tiduran di sini, jangan rewel,'' ucap ibu itu.
Tepat pukul 07.00 WIB ibu itu mengangkat tangan dan kemudian membaca takbir. Usai shalat, ibu itu langsung menengadahkan tangan mengambil kembali anaknya yang ditinggal shalat di samping tikar putih.
Sesekali tangan kanan ibu itu bersalaman dengan jamaah shalat Id. Jumat (12/10) pagi, ibu bernama Susi Susanti sedang mengikuti shalat Id di Lapangan Wijaya Kusuma, Slipi, Jakarta Barat. Si bocah itu tidur-tiduran di pangkuan ibunya. Susi senang, anak yang dinamai Fahmi Fitroni pagi itu tidak rewel meski diajak keluar rumah untuk shalat.
''Kalau penyakitnya kumat, dia bisa kejang-kejang dan mengerang kesakitan. Saya dan kakaknya pasti kerepotan,'' tutur Susi, pelan, saat ditemui Republika usai shalat Id. Maklumlah, Fahmi tidak bisa berbicara sehingga orang di sekitarnya tidak pernah mengerti secara pasti apa yang dia maui.
Dilihat dari umurnya, Fahmi yang lahir tanggal 3 September 1996 itu tidak bisa lagi disebut sebagai bocah atau bayi. Namun, kemampuan fisik maupun psikisnya masih seperti bayi. Penyakit radang otaknya yang diderita sejak usia tiga tahun membuat pertumbuhan fisik, psikis, maupun emosionalnya terhambat. Kini, Fahmi yang berusia 11 tahun itu hanya bisa tidur-tiduran di pangkuan ibunya. Kedua kakinya terlihat lumpuh dan membentuk huruf O. Begitu juga dengan kedua telapak tangannya, tidak bisa memegang lebih dari satu menit. Setiap barang yang ditaruh di telapak tangannya pasti terlepas.
Badannya yang kurus kering belum mampu menopang dirinya sendiri. ''Dia memang seperti bayi, dari sejak umur tiga tahun ketika kejadian itu berawal sampai saat ini kondisinya seperti ini. Belum ada perkembangan membaik atau normal seperti layaknya anak kecil tumbuh,'' tutur Susi mengungkapkan. Dengan usia 11 tahun ini, berat tubuh Fahmi hanya 20 kilogram. Ketika lahir, berat tubuhnya di atas berat rata-rata bayi normal, yakni 4,2 kilogram dengan panjang 55 cm. Sehari-hari Fahmi hanya makan bubur bayi dan sebulan sekali tubuhnya harus diberi cairan infus di Klinik Prima Husada, Cilegon.
Di usia 11 tahun, Fahmi belum bisa hajat atau sekadar makan sendiri. Semua kebutuhannya dilayani ibunya. Dengan setia, Susi setiap pagi hingga keesokan paginya lagi selalu tidak melepas kasih sayangnya melayani anaknya itu. Dengan tegar, Susi tidak ingin mengingat kejadian delapan tahun lalu. Sebab, menurut dia, semua itu adalah takdir dan Allah dianggapnya memiliki pertimbangan tersendiri untuk membuat anaknya menderita radang otak yang sampai saat ini belum terobati.
Peristiwa delapan tahun silam yang dimaksud Susi itu adalah kejadian saat dia bekerja keluar rumah dan menyerahkan Fahmi kepada perawat. Perawat itu tinggal satu rumah dengan ibunda Susi. Saat perawatnya hendak ke kamar mandi, Fahmi yang tertidur pulas dalam gendongan dilepaskan dari pelukannya. Oleh si perawat, gendongan bayi berisi Fahmi ditaruh di paku yang tertancap di dinding. Diduga kurang kuat, paku itu lepas dan spontan Fahmi jatuh. ''Kepalanya membentur lantai, sedangkan si perawat Fahmi pergi entah ke mana,'' ujar Susi, yang warga RT 06/RW 04 Kelurahan Kramat Watu, Kramat Watu, Serang, Banten, ini.
Fahmi kemudian dibawa ke RS Qodar Tangerang. Laporan medis menyebutkan ada batok kepalanya yang pecah akibat benturan itu atau mengalami radang otak. Benturan itu juga menyebabkan adanya gumpalan darah di kepalanya. Belum puas, Fahmi dibawa ke RSAB Harapan Kita serta RS Siloam Gleneagles. Intinya sama, Fahmi menderita radang otak. Tetapi, kata Susi, ada dokter dari rumah sakit lain menyebutkan Fahmi terkena gejala kanker otak. Akibatnya otak Fahmi menjadi mengecil, terutama di bagian belakang. Ada pula dokter yang menvonis Fahmi, kecil peluangnya bisa diselamatkan. Makanya semua dokter menyarankan Fahmi dioperasi.
Saat mendengar biaya operasi yang mencapai Rp 40 juta, Susi dan suaminya, Ridwan, mundur. Fahmi ditarik dari RSUD Serang, setelah belasan juta rupiah dihabiskan untuk membiayai perawatan di sejumlah RS. Fahmi akhirnya dirawat di rumah bersama kakaknya, Imam Alamsyah (sekarang 15 tahun). ''Delapan tahun silam biaya operasi anak saya sebesar Rp 40 juta. Sekarang biaya operasinya bisa mencapai Rp 200 juta. Waktu saya bawa ke RSPP, katanya harus menyiapkan dana Rp 200 juta sampai Rp 500 juta. Wah, saya ya mana sanggup,'' kata Susi. Belum habis kesedihan Susi, Ridwan meninggal dunia.
Kini janda berusia 35 tahun itu harus membesarkan dua anaknya di rumah petak berukuran 3x5 meter persegi di Gang Resik, Kampung Kramatwatu, Desa Kramatwatu, Serang, Di rumah mungil itu, Susi ditemani ibunya, Zalma, dan adiknya bernama Adi Nanda. Fahmi seringkali kejang-kejang. Bila sudah begini, tidak ada cara lain kecuali memberi obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit di otaknya. Gempuran obat-obatan itu membuat pencernaan Fahmi agak terganggu.
''Alat dan obatnya untuk buang air besar harganya hampir Rp 20 ribu untuk satu kali buang air besar. Tetapi, saya baru beli alatnya jika ada uang. Jadi bukan setiap hari beli, paling tidak dalam satu minggu dua atau tiga kali buang air besar. Saya tidak kuat biayanya jika harus membeli setiap hari,'' ujar Susi. Saat ditemui usai shalat Id, mata Susi berusaha terlihat tegar. Tapi, kepedihan itu tidak bisa seterusnya disembunyikan, sebab sesekali dia terlihat terisak apalagi tatkala melihat Fahmi sulit menggerakkan tubuhnya.
Awalnya, untuk bertahan hidup termasuk memenuhi biaya berobat jalan Fahmi, Susi membuka jasa menjahit dan permak jins. Penghasilan yang tidak menentu itu harus disisihkan untuk biaya pengobatan Fahmi. Saat ini, untuk menopang hidupnya, dia berjualan aksesori seperti bando, gelang, dan sebagainya. Setiap bulan, Fahmi menghabiskan Rp 900 ribu untuk membeli obat antikejang serta alat untuk buang air besar. Kenyataan ini, bagi Susi dan seluruh keluarga tetaplah diterima dengan lapang dada

Sabtu, 09 Agustus 2008

Mari sambut Ramadhan penuh berkah . . .

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh . . .

8 Tips Sambut Ramadhan

Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik.

Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan “8 Tips Sambut Ramadhan” :

1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Tabrani)

2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.

3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

5. Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” Muhamad:21.

6. Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu.” Al-Anbiyaa’ ayat 7.

7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pemberishan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.

8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam

Kuntum Khoiru Ummah . . .

"Kalian adalah . . .
umat terbaik
yang
dilahirkan ke tengah-tengah manusia
untuk
menyeru kepada yang ma'ruf
dan
mencegah dari yang munkar,
dan
beriman kepada Allah"


QS Ali Imran : 110

Selasa, 19 Agustus 2008

Saudariku, Jangan Kau Gunakan Lisanmu untuk Melaknat

Penulis: Ummu Salamah As-Suluni
Termasuk bagian dari kenikmatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah lisan. Dengan lisan, kita dapat mengungkapkan pikiran dan perasan kita. Terkadang kita menganggap sepele atau bahkan melupakan perkara yang berhubungan dengan lisan, sehingga kita sering mendengar seseorang yang mengucapkan sesuatu yang tanpa disadari bisa menimbulkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lisan terkadang dapat mengantarkan pemiliknya ke tingkat tertinggi apabila lisan itu digunakan untuk kebaikan atau diarahkan kepada apa yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun lisan juga dapat menjerumuskan pemiliknya ke tingkat yang paling rendah, yaitu apabila lisan digunakan untuk perkara yang tidak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seorang mukmin senantiasa diperintahkan untuk menjaga lisannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. Al-Mukminun: 1-3)
Menjaga lisan termasuk salah satu kesempurnaan Islam seseorang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik (kualitas) keislaman kaum mukminin adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya. Sebaik-baik (kualitas) keimanan kaum mukminin adalah mereka yang paling baik akhlaqnya…..” (HR. Ath-Thabrani)
Sebagai seorang mukmin, penting bagi kita untuk mengetahui apa saja yang termasuk kejahatan lisan. Diantara kejahatan-kejahatan lisan tersebut adalah melaknat.
Apa itu melaknat? Melaknat memiliki dua makna, yaitu makna pertama adalah mencela dan makna kedua adalah mengusir serta menjauhkan dari rahmat Allah. Melaknat bukanlah perangai orang beriman, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan bukan orang yang suka melaknat serta bukan orang yang suka bicara jorok dan kotor.” (HR. Al-Bukhari)
Banyak bahaya yang ditimbulkan karena melaknat. Di antara bahaya tersebut adalah tukang laknat tidak dimasukkan dalam golongan para syuhada dan tidak termasuk orang-orang yang memberi syafa’at disisi Allah untuk memintakan ampun bagi seseorang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafa’at dan tidak pula syuhada pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Melaknat juga bukan sifat para shidiqqun, disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sepatutnya bagi seorang shidiqq menjadi pelaknat.” (HR. Muslim)
Lalu bagaimana jika seseorang melaknat orang lain yang tidak berhak untuk dilaknat? Jawabannya, laknat itu akan kembali pada orang yang melaknat. Dalam suatu hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu, niscaya laknatnya akan naik ke langit, maka tertutuplah pintu-pintu langit hingga ia (laknat -ed) tak dapat masuk, maka kembalilah ia terhujam ke bumi, akan tetapi pintu-pintu bumi pun tertutup untuknya, maka ia berputar-putar ke kanan dan kiri, dan jika tak menemui jalan keluar (menuju sasarannya), maka ia akan tertuju pada orang yang dilaknat jika memang ia pantas untuk dilaknat, akan tetapi jika tidak pantas, maka ia akan kembali kepada orang yang mengucapkan laknat tadi.” (HR. Abu Daud)
Kadang kita mendengar orang berkata, “dasar batu sial!” atau “sial kamu!”, kata-kata ini terdengar sangat sepele, namun ketahuilah Saudariku, bahwa kita dilarang untuk mengucapkan atau melaknat sesuatu tanpa adanya keterangan dari agama bahwa sesuatu tersebut mendatangkan kesialan. Selain itu, kita juga dilarang melaknat angin, binatang, ayam jago, waktu, serta manusia tertentu, terutama seorang mukmin karena hal tersebut termasuk dosa besar. Tsabit bin Adh-Dhahhak rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaknat seorang mukmin maka seakan-akan dia membunuhnya.” (HR. Al-Bukhari)
Lalu apakah ada laknat yang diperbolehkan? Jawabannya ada, yaitu melaknat pelaku kemaksiatan dari kalangan kaum muslimin tanpa menunjuk personnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya. Selain itu boleh juga melaknat dengan menunjuk orang terrtentu yang sudah mati untuk menjelaskan keadaannya pada manusia dan untuk kemashlahatan syari’ah. Adapun jika tidak ada maslahat syari’ah maka tidak diperbolehkan karena, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci maki orang-orang yang telah mati, karena sesungguhnya mereka telah mendapatkan balasan dari apa yang telah mereka perbuat dahulu.” (HR. Al-Bukhari)
Seorang mukmin hendaknya tidak berkata kecuali yang baik. Perkataannya adalah suatu kejujuran, di samping sebagai perbaikan di antara manusia, amar ma’ruf nahi munkar, doa, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini? “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada diantara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)
Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesalahan-kesalahan lisan kita serta janganlah kita merasa aman terhadap tipu daya lisan, agar kita tidak binasa dalam neraka jahim dan kerugian.

Waspadai Virus Selingkuh

Seorang ibu mengalami depresi berat sampai harus masuk rumahsakit. Bahkan sebelumnya ia hampir mengakhiri hidupnya. Apa gerangan yang terjadi? Suaminya selingkuh dengan teman sekantornya. Tidak ada dalam benaknya, seorang suami yang taat beribadah, perhatian, bahkan pengurus DKM berselingkuh dengan wanita yang jauh dari agama. Ia benar-benar terguncang. Harmonisasi keluarga yang selama ini mereka bangun hancur begitu saja karena hadirnya orang ketiga.
Walau menyengsarakan, namun tren selingkuh di masyarakat mengalami "peningkatan" signifikan. Ustzh. Mimin Aminah, konsultan pernikahan dari Cahaya Islam Bandung, mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir ia menerima 43 orang yang berkonsultasi. Masalah yang dikonsultasikan bervariasi, 3 orang konsultasi masalah non pernikahan. Sisanya berkaitan dengan maslaah pernikahan. Dari 40 orang, hanya dua orang saja yang bukan selingkuh. Jadi, 38 orang atau hampir 90 persen pasien yang datang mengeluhkan soal perselingkuhan. Satu angka yang amat mengkhawatirkan. Sehingga masuk akal bila seorang ahli menyatakan bahwa dua dari tiga laki-laki selingkuh.
Ia pun menemukan dua hal "unik". Pertama, pelaku selingkuh ternyata bukan hanya laki-laki, tapi juga wanita. Ini menarik. Biasanya wanita memiliki komitmen, kesetiaan dan rasa iba lebih kuat, serta memiliki pertimbangan emosi yang lebih kuat. Kedua, pelaku selingkuh bukan hanya orang-orang yang tidak mengerti agama. Orang yang mengerti agama pun bisa berselingkuh.

Apa Itu Selingkuh?Selingkuh adalah tindakan yang disembunyikan, serta tidak diungkapkan sebagaimana mestinya, sehingga menimbulkan perasaan tidak baik terhadap orang yang tidak mendapatkan hak dari apa yang disembunyikannya itu. Dalam perkembangannya, selingkuh dikonotasikan dengan hubungan selain hubungan resmi. Misalnya, hubungan suami dengan selain istrinya atau seorang istri dengan selain suaminya. Hubungan tersebut dibangun seperti hubungan suami dan istri.
Selingkuh, sejatinya adalah tahap awal pengembangan dusta dalam rumahtangga. Sehingga melahirkan rasa saling tidak percaya, saling curiga dan pengkhianatan akan janji setia. Akibat selingkuh, tidak ada lagi kehangatan dan canda tawa dalam keluarga.
Karena akibat yang ditimbulkannya sangat berbahaya, maka Islam memandang selingkuh sebagai zina. Allah SWT sangat membenci zina. Jangankan melakukannya, mendekatinya saja tidak boleh (QS Al-Israa' <17>: 32). Islam pun tidak mentoleransi perbuatan zina sedikit pun. Hal ini terlihat dari beratnya sanksi yang diberikan kepada pelakunya (QS An-Nuur <24>: 2).

Mengapa Terjadi Selingkuh?
Selingkuh terjadi karena adanya dorongan kuat untuk melakukan penyimpangan. Kadang berupa keinginan bertemu seseorang yang dulu pernah dicintai dan sekarang sudah berkeluarga. Kadang melihat "kelebihan" orang lain dibanding milik sendiri, dsb. Andai dirunut, setidaknya ada empat penyebab utama terjadinya selingkuh.
Pertama, kurang harmonisnya hubungan suami dan istri. Kondisi ini disebabkan kurang intensnya berkomunikasi yang terjalin. Bisa pula masing-masing kurang mendapat porsi mengekspresikan emosinya. Sebenarnya kalau pun ada faktor-faktor lain yang bermasalah, seperti faktor ekonomi, apabila komunikasinya bagus, keluarga akan tetap harmonis.
Kedua, adanya ketidakpuasan suami atau istri yang tak terungkap. Harapan, tuntutan, keinginan yang tidak terkomunikasikan bisa membuat seseorang mencari pemenuhan dari orang lain. Patut dicatat, selingkuh itu tidak selalu dengan orang yang fisik dan hartanya lebih baik dari pasangan sahnya. Ada kasus seorang majikan selingkuh dengan sopir atau pembantunya. Alasannya, mereka merasa lebih dihargai oleh selingkuhannya.
Ketiga, kurangnya perhatian dari pasangan. Apa yang diharapkan pasangannya tidak direspons dengan baik.
Keempat, dilanggarnya etika pergaulan dengan lawan jenis. Sebab, sepanjang pandangan dan perkataan tidak dijaga, sepanjang pergaulan tanpa hijab, sepanjang itulah peluang selingkuh terbuka lebar.

Arti Penting Komitmen
Kesuksesan rumahtangga dibangun dengan landasan kecintaan dan kesetiaan. Namun kenyataannya banyak orang yang diam-diam mengkhianati cinta pasangannya dengan selingkuh. Rumahtangga yang telah dibangun selama bertahun-tahun, akhirnya kandas karena pasangan berselingkuh. Bagaimana mengeliminasinya?

· Bangun Komitmen Spiritual
Sebuah perbuatan akan terjadi kalau ada peluang dan kemampuan. Keduanya hanya bisa dihalangi oleh kuatnya komitmen agama. Komitmen inilah yang membuat Nabi Yusuf mampu menghindari perselingkuhan dengan Zulaikha. Nabi Yusuf benar-benar mendapatkan kesempatan langka, namun ia tidak tergoda (QS Yusuf <12>: 23). Komitmen spiritual akan membuat seseorang tunduk pada kebenaran dan mampu berakhlak mulia. Pandangan, ucapan serta pergaulannya akan senantiasa dijaga.

· Bangun Komitmen Berkeluarga
Pernikahan akan terasa dinamis, andai suami istri memiliki komitmen untuk memenuhi hak dan kewajibannya sebaik mungkin. Suami berkomitmen untuk menjadi kepala rumahtangga terbaik. Begitu pun istri, berkomitmen menjadi ratu di rumahtangga. Ketika fungsi-fungsi ini tidak berjalan, maka akan lahir ketimpangan dan penyelewengan.

· Bangun Komunikasi yang Sehat
Suami istri perlu membiasakan suasana komunikasi yang enak dan musyawarah. Suasana dialogis perlu dikembangkan untuk menjaga keharmonisan, melahirkan keterbukaan, mampu mendeteksi adanya perubahan sikap, serta mengetahui keadaan pasangan.

· Selesaikan Masalah Sejak Dini
Jangan sepelekan masalah yang timbul, termasuk masalah yang kita anggap kecil. Sebab, perselingkuhan sering berawal dari masalah-masalah sepele. Maka, berhati-hatilah ketika pasangan marah-marah melihat salah satu kebiasaan kita. Atau ia mengatakan bosan. Segera cari solusi terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak.

· Jadilah Pasangan Tepercaya dan Dibutuhkan
Setiap pasangan harus mampu memberikan service memuaskan bagi pasangannya. Sehingga ia tidak mencari kepuasan di luar rumah. Suami atau istri harus menjadi penenteram bagi pasangannya ketika didera masalah. Ia hadir, membantu dan menenteramkan, bukan malah menambah masalah.

· Bersikap Bijak dan Tepat
Sikapi dengan bijak dan tepat bila mengetahui adanya gejala-gejala peselingkuhan. Caranya: <1> Kembalikan semua masalah kepada aturan Allah dan Rasul-Nya, <2> Tiap pasangan melakukan koreksi diri dan saling mengingatkan untuk menemukan dan menilai kesalahan yang telah terjadi

Kuatnya Ketulusan Kasih Ibu

Kuatnya Ketulusan Kasih Ibu

Sesekali bibir bocah itu mengulum senyum. Kedua matanya memerhatikan sekelilingnya. Dengan lembut dan kasih sayangnya, ibu si anak mengelus rambut hitamnya yang terlihat jarang tumbuh. ''Ibu mau shalat dulu ya sayang. Kamu tidur-tiduran di sini, jangan rewel,'' ucap ibu itu.
Tepat pukul 07.00 WIB ibu itu mengangkat tangan dan kemudian membaca takbir. Usai shalat, ibu itu langsung menengadahkan tangan mengambil kembali anaknya yang ditinggal shalat di samping tikar putih.
Sesekali tangan kanan ibu itu bersalaman dengan jamaah shalat Id. Jumat (12/10) pagi, ibu bernama Susi Susanti sedang mengikuti shalat Id di Lapangan Wijaya Kusuma, Slipi, Jakarta Barat. Si bocah itu tidur-tiduran di pangkuan ibunya. Susi senang, anak yang dinamai Fahmi Fitroni pagi itu tidak rewel meski diajak keluar rumah untuk shalat.
''Kalau penyakitnya kumat, dia bisa kejang-kejang dan mengerang kesakitan. Saya dan kakaknya pasti kerepotan,'' tutur Susi, pelan, saat ditemui Republika usai shalat Id. Maklumlah, Fahmi tidak bisa berbicara sehingga orang di sekitarnya tidak pernah mengerti secara pasti apa yang dia maui.
Dilihat dari umurnya, Fahmi yang lahir tanggal 3 September 1996 itu tidak bisa lagi disebut sebagai bocah atau bayi. Namun, kemampuan fisik maupun psikisnya masih seperti bayi. Penyakit radang otaknya yang diderita sejak usia tiga tahun membuat pertumbuhan fisik, psikis, maupun emosionalnya terhambat. Kini, Fahmi yang berusia 11 tahun itu hanya bisa tidur-tiduran di pangkuan ibunya. Kedua kakinya terlihat lumpuh dan membentuk huruf O. Begitu juga dengan kedua telapak tangannya, tidak bisa memegang lebih dari satu menit. Setiap barang yang ditaruh di telapak tangannya pasti terlepas.
Badannya yang kurus kering belum mampu menopang dirinya sendiri. ''Dia memang seperti bayi, dari sejak umur tiga tahun ketika kejadian itu berawal sampai saat ini kondisinya seperti ini. Belum ada perkembangan membaik atau normal seperti layaknya anak kecil tumbuh,'' tutur Susi mengungkapkan. Dengan usia 11 tahun ini, berat tubuh Fahmi hanya 20 kilogram. Ketika lahir, berat tubuhnya di atas berat rata-rata bayi normal, yakni 4,2 kilogram dengan panjang 55 cm. Sehari-hari Fahmi hanya makan bubur bayi dan sebulan sekali tubuhnya harus diberi cairan infus di Klinik Prima Husada, Cilegon.
Di usia 11 tahun, Fahmi belum bisa hajat atau sekadar makan sendiri. Semua kebutuhannya dilayani ibunya. Dengan setia, Susi setiap pagi hingga keesokan paginya lagi selalu tidak melepas kasih sayangnya melayani anaknya itu. Dengan tegar, Susi tidak ingin mengingat kejadian delapan tahun lalu. Sebab, menurut dia, semua itu adalah takdir dan Allah dianggapnya memiliki pertimbangan tersendiri untuk membuat anaknya menderita radang otak yang sampai saat ini belum terobati.
Peristiwa delapan tahun silam yang dimaksud Susi itu adalah kejadian saat dia bekerja keluar rumah dan menyerahkan Fahmi kepada perawat. Perawat itu tinggal satu rumah dengan ibunda Susi. Saat perawatnya hendak ke kamar mandi, Fahmi yang tertidur pulas dalam gendongan dilepaskan dari pelukannya. Oleh si perawat, gendongan bayi berisi Fahmi ditaruh di paku yang tertancap di dinding. Diduga kurang kuat, paku itu lepas dan spontan Fahmi jatuh. ''Kepalanya membentur lantai, sedangkan si perawat Fahmi pergi entah ke mana,'' ujar Susi, yang warga RT 06/RW 04 Kelurahan Kramat Watu, Kramat Watu, Serang, Banten, ini.
Fahmi kemudian dibawa ke RS Qodar Tangerang. Laporan medis menyebutkan ada batok kepalanya yang pecah akibat benturan itu atau mengalami radang otak. Benturan itu juga menyebabkan adanya gumpalan darah di kepalanya. Belum puas, Fahmi dibawa ke RSAB Harapan Kita serta RS Siloam Gleneagles. Intinya sama, Fahmi menderita radang otak. Tetapi, kata Susi, ada dokter dari rumah sakit lain menyebutkan Fahmi terkena gejala kanker otak. Akibatnya otak Fahmi menjadi mengecil, terutama di bagian belakang. Ada pula dokter yang menvonis Fahmi, kecil peluangnya bisa diselamatkan. Makanya semua dokter menyarankan Fahmi dioperasi.
Saat mendengar biaya operasi yang mencapai Rp 40 juta, Susi dan suaminya, Ridwan, mundur. Fahmi ditarik dari RSUD Serang, setelah belasan juta rupiah dihabiskan untuk membiayai perawatan di sejumlah RS. Fahmi akhirnya dirawat di rumah bersama kakaknya, Imam Alamsyah (sekarang 15 tahun). ''Delapan tahun silam biaya operasi anak saya sebesar Rp 40 juta. Sekarang biaya operasinya bisa mencapai Rp 200 juta. Waktu saya bawa ke RSPP, katanya harus menyiapkan dana Rp 200 juta sampai Rp 500 juta. Wah, saya ya mana sanggup,'' kata Susi. Belum habis kesedihan Susi, Ridwan meninggal dunia.
Kini janda berusia 35 tahun itu harus membesarkan dua anaknya di rumah petak berukuran 3x5 meter persegi di Gang Resik, Kampung Kramatwatu, Desa Kramatwatu, Serang, Di rumah mungil itu, Susi ditemani ibunya, Zalma, dan adiknya bernama Adi Nanda. Fahmi seringkali kejang-kejang. Bila sudah begini, tidak ada cara lain kecuali memberi obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit di otaknya. Gempuran obat-obatan itu membuat pencernaan Fahmi agak terganggu.
''Alat dan obatnya untuk buang air besar harganya hampir Rp 20 ribu untuk satu kali buang air besar. Tetapi, saya baru beli alatnya jika ada uang. Jadi bukan setiap hari beli, paling tidak dalam satu minggu dua atau tiga kali buang air besar. Saya tidak kuat biayanya jika harus membeli setiap hari,'' ujar Susi. Saat ditemui usai shalat Id, mata Susi berusaha terlihat tegar. Tapi, kepedihan itu tidak bisa seterusnya disembunyikan, sebab sesekali dia terlihat terisak apalagi tatkala melihat Fahmi sulit menggerakkan tubuhnya.
Awalnya, untuk bertahan hidup termasuk memenuhi biaya berobat jalan Fahmi, Susi membuka jasa menjahit dan permak jins. Penghasilan yang tidak menentu itu harus disisihkan untuk biaya pengobatan Fahmi. Saat ini, untuk menopang hidupnya, dia berjualan aksesori seperti bando, gelang, dan sebagainya. Setiap bulan, Fahmi menghabiskan Rp 900 ribu untuk membeli obat antikejang serta alat untuk buang air besar. Kenyataan ini, bagi Susi dan seluruh keluarga tetaplah diterima dengan lapang dada

Sabtu, 09 Agustus 2008

Mari sambut Ramadhan penuh berkah . . .

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh . . .

8 Tips Sambut Ramadhan

Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik.

Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan “8 Tips Sambut Ramadhan” :

1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Tabrani)

2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.

3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

5. Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” Muhamad:21.

6. Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu.” Al-Anbiyaa’ ayat 7.

7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pemberishan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.

8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam

Kuntum Khoiru Ummah . . .

"Kalian adalah . . .
umat terbaik
yang
dilahirkan ke tengah-tengah manusia
untuk
menyeru kepada yang ma'ruf
dan
mencegah dari yang munkar,
dan
beriman kepada Allah"


QS Ali Imran : 110